Perkenalan saya dengan Ubuntu bermula dari tersesatnya saya ke sebuah blog yang membahas tentang cara mendapat CD gratis dari Canonical. Saya kemudian
iseng-iseng mencoba mengikuti petunjuk yang terdapat dalam blog tersebut. Walaupun pada waktu itu saya sama sekali tidak berminat pada isi CD gratisan tersebut, tapi iming-iming mendapat barang gratisan memang bisa menjadi godaan yang tidak dapat ditolak. Singkat cerita, setelah menyelesaikan prosedur pendaftaran di shipit.ubuntu.com, saya harus menunggu kurang lebih sebulan sebelum akhirnya CD gratisan itu diantarkan oleh Pak Pos ke rumah. Paket CD gratisan dari Canonical berisi satu keping live CD Ubuntu 7.04 dan satu lembar stiker Ubuntu. Tapi sayangnya CD gratisan itu tidak pernah saya gunakan, selain karena spesifikasi hardware komputer yang tidak memadai untuk menjalankan live CD, juga karena saya masih buta mengenai dunia open source (walaupun pada kenyataannya sampai sekarang saya juga belum benar-benar melek soal dunia open source ini
).
Beberapa waktu kemudian saya mendapatkan e-book yang membahas mengenai Ubuntu dan mengupas segala kelebihan (dan kekurangannya) jika dibandingkan dengan Windows. Lama-kelamaan timbul rasa ketertarikan untuk mencoba Ubuntu. Tapi lagi-lagi karena spesifikasi komputer yang pas-pasan, membatasi saya untuk bisa segera merasakan Ubuntu. Setelah beberapa saat berkelana di dunia maya untuk mencari cara agar komputer bisa diinstalli Ubuntu, akhirnya saya mampir di situs resmi Ubuntu untuk kemudian mendownload CD image versi alternate installnya.
Berbekal e-book tentang Ubuntu, maka dimulailah petualangan saya di dunia Ubuntu. Proses penginstallannya ternyata tidak terlalu sulit. Tapi perkenalan saya dengan Ubuntu harus sedikit terhambat karena resolusi monitor tiba-tiba menciut jadi 640×480, yang membuat tampilan di layar menjadi penuh sesak. Berkat bantuan Google dan menggunakan beberapa halaman di e-book sebagai referensi, akhirnya bisa juga ditemukan solusi bagi masalah itu.
Kesan pertama saya pada Ubuntu adalah tampilannya tidak se-geek seperti yang saya kira. Untuk menggunakan fungsi menu dan shortcutnya juga tidak terlalu sulit
terutama bagi newbie seperti saya. Selama ini saya selalu beranggapan linux dan konco-konconya hanya diperuntukkan bagi para dewa di dunia komputer dan manusia biasa tidak akan pernah bisa menggunakannya. Tetapi kenyataannya anggapan saya itu salah besar. Tampilan dan cara penggunaan beberapa fungsi di sistem operasi linux (Ubuntu, dalam hal ini) memang tidak terlalu berbeda dari Windows. Walaupun juga perlu digarisbawahi bahwa Linux dan berbagai variannya tidak mencoba untuk menjiplak Windows, tetapi semata-mata agar Linux bisa dengan mudah digunakan oleh siapa saja dan tidak hanya menjadi konsumsi para dewa komputer.
Untuk bisa menggunakan Ubuntu memang bukan perkara instan. Butuh waktu dan proses agar sistem operasi Ubuntu yang sudah diinstall bisa dimanfaatkan dengan
maksimal. Dari apa yang saya alami, selain disapa oleh resolusi layar yang tiba-tiba menciut, saya juga harus beberapa kali mendownload dan mengupdate file-file tertentu agar Ubuntu yang telah saya install bisa berfungsi optimal. Tentu saja bagi anda yang tidak memiliki koneksi internet bisa mencari / membeli DVD repository Ubuntu yang harganya tidak terlalu mahal atau mendownload versi iso-nya bagi anda yang memiliki jatah bandwith yang lega. Proses penyesuaian diri dengan sistem operasi ini juga membutuhkan waktu karena program yang terdapat di Ubuntu berbeda dengan program di Windows. Perkara ini bisa diakali dengan menginstall Wine (program untuk menjalankan program Windows di Linux) tetapi memang tidak semua program Windows dapat dijalankan di Linux. Sehingga harus terlebih dulu mencari alternatif pengganti program Windows tersebut.
Masa-masa indah bulan madu saya dengan Ubuntu ternyata tidak berlangsung lama. Program-program yang dijalankan di Ubuntu mulai sering mengalami crash. Penyebabnya adalah hardware komputer yang sudah termasuk lanjut usia ini seakan tidak ikhlas untuk ditumpangi oleh Ubuntu yang berbasis open source. Karena saya masih melakukan dual boot antara Ubuntu dan Windows, maka bisa terasa perbedaan soal sering crashnya program-program di Ubuntu dibandingkan dengan program-program di Windows. Bahkan Update Manager Ubuntu di komputer saya pun sering crash. Tapi jangan salah sangka, penyebab crashnya program di Ubuntu semata-mata karena hardware komputer saya yang sudah tidak seoptimal dulu lagi. Atas alasan itulah saya kemudian mulai jarang menyambangi Ubuntu. Sampai akhirnya saya terpaksa harus kembali ke Windows versi bajakan lagi.
Rasa rindu saya pada Ubuntu kembali muncul saat ada berita Canonical merelease versi terbaru Ubuntu dengan julukan Jaunty Jackalope. Beruntung beberapa waktu sesudah itu, power supply komputer saya meledak dan diikuti dengan matinya processor di komputer. Kejadian itu seakan menjadi blessing in disguise karena akhirnya saya bisa kembali menggunakan Ubuntu. Berawal dari iseng sewaktu memindah hard disk yang masih berisi Windows dan Ubuntu ke komputer lain, ternyata hanya Ubuntu yang bisa dijalankan di komputer itu. Windows cuma bisa menampilkan layar biru ketika dilakukan booting. Sehingga secara tidak sengaja, saya bisa melakukan reuni dengan Ubuntu setelah sekian lama sempat saya tinggalkan. Anehnya, program-program di Ubuntu tidak mengalami crash lagi. Padahal Ubuntu yang saya gunakan adalah installan Ubuntu yang sering mengalami crash dulu. Inilah yang semakin menguatkan dugaan saya bahwa memang hardware komputer yang rusak itulah yang jadi tersangka utama sering crashnya program di Ubuntu.
Sekarang saya masih merasa nyaman menikmati reuni saya dengan Ubuntu. Saya juga sudah menginstall Jaunty Jackalope di komputer yang sebenarnya berspesifikasi lebih rendah dari komputer saya yang rusak. Memang performa komputer menjadi menurun dan agak terasa berat saat melakukan multi tasking karena komputer ini cuma menggunakan processor sekelas Pentium III dengan memory 256 MB. Tetapi paling tidak untuk sementara waktu kerinduan saya pada Ubuntu bisa terobati.
Sumber Gambar :



