Kembali Ke Ubuntu

Perkenalan saya dengan Ubuntu bermula dari tersesatnya saya ke sebuah blog yang membahas tentang cara mendapat CD gratis dari Canonical. Saya kemudian ubuntuiseng-iseng mencoba mengikuti petunjuk yang terdapat dalam blog tersebut. Walaupun pada waktu itu saya sama sekali tidak berminat pada isi CD gratisan tersebut, tapi iming-iming mendapat barang gratisan memang bisa menjadi godaan yang tidak dapat ditolak. Singkat cerita, setelah menyelesaikan prosedur pendaftaran di shipit.ubuntu.com, saya harus menunggu kurang lebih sebulan sebelum akhirnya CD gratisan itu diantarkan oleh Pak Pos ke rumah. Paket CD gratisan dari Canonical berisi satu keping live CD Ubuntu 7.04 dan satu lembar stiker Ubuntu. Tapi sayangnya CD gratisan itu tidak pernah saya gunakan, selain karena spesifikasi hardware komputer yang tidak memadai untuk menjalankan live CD, juga karena saya masih buta mengenai dunia open source (walaupun pada kenyataannya sampai sekarang saya juga belum benar-benar melek soal dunia open source ini :P ).

Beberapa waktu kemudian saya mendapatkan e-book yang membahas mengenai Ubuntu dan mengupas segala kelebihan (dan kekurangannya) jika dibandingkan dengan Windows. Lama-kelamaan timbul rasa ketertarikan untuk mencoba Ubuntu. Tapi lagi-lagi karena spesifikasi komputer yang pas-pasan, membatasi saya untuk bisa segera merasakan Ubuntu. Setelah beberapa saat berkelana di dunia maya untuk mencari cara agar komputer bisa diinstalli Ubuntu, akhirnya saya mampir di situs resmi Ubuntu untuk kemudian mendownload CD image versi alternate installnya.

Berbekal e-book tentang Ubuntu, maka dimulailah petualangan saya di dunia Ubuntu. Proses penginstallannya ternyata tidak terlalu sulit. Tapi perkenalan saya dengan Ubuntu harus sedikit terhambat karena resolusi monitor tiba-tiba menciut jadi 640×480, yang membuat tampilan di layar menjadi penuh sesak. Berkat bantuan Google dan menggunakan beberapa halaman di e-book sebagai referensi, akhirnya bisa juga ditemukan solusi bagi masalah itu.

Kesan pertama saya pada Ubuntu adalah tampilannya tidak se-geek seperti yang saya kira. Untuk menggunakan fungsi menu dan shortcutnya juga tidak terlalu sulit Desktopterutama bagi newbie seperti saya. Selama ini saya selalu beranggapan linux dan konco-konconya hanya diperuntukkan bagi para dewa di dunia komputer dan manusia biasa tidak akan pernah bisa menggunakannya. Tetapi kenyataannya anggapan saya itu salah besar. Tampilan dan cara penggunaan beberapa fungsi di sistem operasi linux (Ubuntu, dalam hal ini) memang tidak terlalu berbeda dari Windows. Walaupun juga perlu digarisbawahi bahwa Linux dan berbagai variannya tidak mencoba untuk menjiplak Windows, tetapi semata-mata agar Linux bisa dengan mudah digunakan oleh siapa saja dan tidak hanya menjadi konsumsi para dewa komputer.

Untuk bisa menggunakan Ubuntu memang bukan perkara instan. Butuh waktu dan proses agar sistem operasi Ubuntu yang sudah diinstall bisa dimanfaatkan dengan Programmaksimal. Dari apa yang saya alami, selain disapa oleh resolusi layar yang tiba-tiba menciut, saya juga harus beberapa kali mendownload dan mengupdate file-file tertentu agar Ubuntu yang telah saya install bisa berfungsi optimal. Tentu saja bagi anda yang tidak memiliki koneksi internet bisa mencari / membeli DVD repository Ubuntu yang harganya tidak terlalu mahal atau mendownload versi iso-nya bagi anda yang memiliki jatah bandwith yang lega. Proses penyesuaian diri dengan sistem operasi ini juga membutuhkan waktu karena program yang terdapat di Ubuntu berbeda dengan program di Windows. Perkara ini bisa diakali dengan menginstall Wine (program untuk menjalankan program Windows di Linux) tetapi memang tidak semua program Windows dapat dijalankan di Linux. Sehingga harus terlebih dulu mencari alternatif pengganti program Windows tersebut.

Masa-masa indah bulan madu saya dengan Ubuntu ternyata tidak berlangsung lama. Program-program yang dijalankan di Ubuntu mulai sering mengalami crash. Penyebabnya adalah hardware komputer yang sudah termasuk lanjut usia ini seakan tidak ikhlas untuk ditumpangi oleh Ubuntu yang berbasis open source. Karena saya masih melakukan dual boot antara Ubuntu dan Windows, maka bisa terasa perbedaan soal sering crashnya program-program di Ubuntu dibandingkan dengan program-program di Windows. Bahkan Update Manager Ubuntu di komputer saya pun sering crash. Tapi jangan salah sangka, penyebab crashnya program di Ubuntu semata-mata karena hardware komputer saya yang sudah tidak seoptimal dulu lagi. Atas alasan itulah saya kemudian mulai jarang menyambangi Ubuntu. Sampai akhirnya saya terpaksa harus kembali ke Windows versi bajakan lagi.

Rasa rindu saya pada Ubuntu kembali muncul saat ada berita Canonical merelease versi terbaru Ubuntu dengan julukan Jaunty Jackalope. Beruntung beberapa waktu sesudah itu, power supply komputer saya meledak dan diikuti dengan matinya processor di komputer. Kejadian itu seakan menjadi blessing in disguise karena akhirnya saya bisa kembali menggunakan Ubuntu. Berawal dari iseng sewaktu memindah hard disk yang masih berisi Windows dan Ubuntu ke komputer lain, ternyata hanya Ubuntu yang bisa dijalankan di komputer itu. Windows cuma bisa menampilkan layar biru ketika dilakukan booting. Sehingga secara tidak sengaja, saya bisa melakukan reuni dengan Ubuntu setelah sekian lama sempat saya tinggalkan. Anehnya, program-program di Ubuntu tidak mengalami crash lagi. Padahal Ubuntu yang saya gunakan adalah installan Ubuntu yang sering mengalami crash dulu. Inilah yang semakin menguatkan dugaan saya bahwa memang hardware komputer yang rusak itulah yang jadi tersangka utama sering crashnya program di Ubuntu.

Sekarang saya masih merasa nyaman menikmati reuni saya dengan Ubuntu. Saya juga sudah menginstall Jaunty Jackalope di komputer yang sebenarnya berspesifikasi lebih rendah dari komputer saya yang rusak. Memang performa komputer menjadi menurun dan agak terasa berat saat melakukan multi tasking karena komputer ini cuma menggunakan processor sekelas Pentium III dengan memory 256 MB. Tetapi paling tidak untuk sementara waktu kerinduan saya pada Ubuntu bisa terobati.

Sumber Gambar :

Sentilan Dari Negeri Jiran

Beberapa minggu belakangan, hubungan antara negara bertetangga Indonesia-Malaysia kembali memanas. Kali ini pemicunya bukan masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mendapat perlakuan sewenang-wenang di Malaysia. Ambalat, suatu blok dibawah laut seluas 15.235 kilometer persegi yang terletak di laut Sulawesi atau Selat Makassar, menjadi penyebabnya. Banyak yang mengira Ambalat adalah pulau tetapi sebenarnya Ambalat adalah suatu daerah di bawah laut yang kaya akan minyak.

Daerah sekitar Ambalat telah dipersengketakan sejak puluhan tahun yang lalu. Semua berawal dari perjanjian antara Indonesia dan Malaysia dalam menetapkan tapal batas kontinen kedua negara yang ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1969. Kedua negara kemudian meratifikasi perjanjian tersebut pada tanggal 7 November 1969. Masalah muncul saat Malaysia membuat peta baru pada tahun 1979 yang secara sepihak memasukkan wilayah yang masih dipersengketakan kedalam teritorinya. Beberapa negara lalu mengajukan protes atas peta baru yang dibuat oleh Malaysia tersebut. Indonesia juga mengajukan protes karena Sipadan dan Ligitan secara sepihak dimasukkan kedalam peta itu.

Masalah masih berlanjut sampai pada tahun 1991, Malaysia menempatkan polisi di Sipadan dan Ligitan. Polisi Malaysia kemudian mengusir WNI yang masih berada di kedua pulau tersebut. Pemerintah Indonesia awalnya enggan membawa masalah ini ke Mahkamah Internasional dan hanya ingin menyelesaikan di level regional saja. Tetapi entah karena apa, sikap pemerintah Indonesia berubah, yang ditunjukkan dengan ditandatanganinya kesepakatan antara kedua negara untuk membawa kasus Sipadan-Ligitan ke Mahkamah Internasional pada tanggal 31 Mei 1997. Pada tahun 1998 kasus Sipadan-Ligitan dibawa ke Mahkamah Internasional dan baru pada tahun 2002 dikeluarkan keputusan yang memenangkan klaim Malaysia atas dua pulau tersebut.

Beralihnya kepemilikan Sipadan-Ligitan ke tangan Malaysia membuat batas maritim antara Indonesia-Malaysia menjadi semakin tidak jelas lagi. Apalagi Malaysia kemudian secara sepihak mengklaim perairan sepanjang 70 mil dari garis pantai Sipadan-Ligitan masuk kedalam wilayah perairannya karena beranggapan Malaysia adalah negara kepulauan. Sedangkan Indonesia menganggap Malaysia bukan negara kepulauan melainkan hanya sebagai negara pantai sehingga berdasar Konvensi Hukum Laut Internasional (UNCLOS) hanya berhak atas perairan sepanjang 12 mil dari garis pantai kedua pulau tersebut. Atas dasar anggapan sepihak itulah Malaysia kemudian mengklaim wilayah Ambalat termasuk kedalam teritorinya. Klaim Malaysia berlanjut dengan pemberian konsesi pengelolaan wilayah di ND6 (blok Ambalat menurut Indonesia) dan ND7 (blok East Ambalat menurut Indonesia) kepada Shell pada tanggal 16 Februari 2005. Hal tersebut tentu saja mengundang protes dari pemerintah Indonesia karena sebelumnya pemerintah telah memberikan konsesi pengelolaan blok Ambalat dan East Ambalat kepada Unocal dan ENI.

Keputusan Mahkamah Internasional yang memenangkan klaim Malaysia atas Sipadan-Ligitan seolah juga menjadi tambahan amunisi bagi Malaysia. Mulai dari Februari 2005, kapal perang Malaysia menjadi lebih sering bermanuver di sekitar perairan Ambalat. Manuver  Malaysia kemudian diikuti oleh keputusan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kesiagaan dengan mengirimkan lebih banyak kapal perang ke perairan Ambalat. Puncak ketegangan antara kedua negara terjadi pada tanggal 8 April 2005  melalui peristiwa penyerempetan Kapal Diraja Rencong (Malaysia) oleh Kapal Republik Indonesia Tedong Naga (Indonesia).

Beberapa waktu setelah itu, ketegangan tampaknya mulai mereda karena pemerintah kedua negara sepakat untuk menempuh jalan diplomasi untuk menyelesaikan masalah Ambalat. Walaupun pada kenyataannya sampai dengan tahun 2009 kapal perang Malaysia masih sering memasuki wilayah perairan sekitar Ambalat dan melanggar batas wilayah perairan Indonesia. Bahkan konon kabarnya, sejak 2007 sampai 2009 telah terjadi 110 kali pelanggaran wilayah perairan oleh kapal perang Malaysia.

Selain  melanggar batas wilayah perairan Indonesia, Malaysia sering melanggar batas wilayah darat Indonesia. Pelanggaran wilayah yang baru saja dilakukan oleh Malaysia berupa penggeseran patok perbatasan Indonesia di Dusun Seberang, Kecamatan Sebatik. Penggeseran patok tersebut bahkan dilakukan lebih dari 100 meter masuk ke wilayah Indonesia oleh Polisi dan Tentara Diraja Malaysia sehingga sawah milik warga setempat kini masuk kedalam teritori Malaysia.

Yang menjadi pertanyaan adalah apa sebenarnya yang sedang diinginkan oleh negeri jiran (tetangga) kita melalui berbagai tindakan yang dilakukan beberapa waktu belakangan. Padahal sudah lebih dari 4 tahun berlalu, tetapi mengapa sekarang klaim Malaysia atas Ambalat mencuat lagi. Malaysia seperti sedang berusaha mencuri kesempatan untuk kembali mengklaim Ambalat sebagai wilayahnya. Sejak 2005 hingga sekarang tercatat hanya pada tahun 2005 dan 2007 saja situasi Ambalat benar-benar memanas. Selebihnya walaupun masih terjadi pelanggaran wilayah, tetapi tidak seintens yang dilakukan beberapa bulan belakangan ini sehingga tidak sampai muncul dalam pemberitaan di media massa. Kuala Lumpur seperti hendak mengirim sinyal ke Jakarta dan ke dunia internasional bahwa kasus Ambalat akan jadi bara api yang akan kembali menyala ketika tertiup angin sehingga harus diselesaikan segera.

Malaysia tampaknya juga sedang memanfaatkan momen disaat konsentrasi bangsa Indonesia sedang tertuju ke penyelenggaraaan Pemilu. Malaysia mungkin sudah belajar dari pengalaman tahun 2005 dan tahun 2007 dimana seluruh elemen bangsa Indonesia bersatu untuk mengecam klaim sepihak yang dilakukan Malaysia atas Ambalat. Berbagai demonstrasi dilakukan oleh masyarakat bahkan sampai ke tindakan sweeping warga negara Malaysia dan perekrutan laskar untuk dikirim ke Ambalat pun juga sempat dilakukan. Bandingkan dengan kondisi sekarang, dimana situasi di masyarakat tidak sepanas tahun 2005 dan 2007 lalu, padahal pelanggaran wilayah ini telah diberitakan dan menjadi headline di berbagai media massa. Malaysia sepertinya juga sedang memanfaatkan kondisi dimana konsentrasi pemerintah  sedang terpecah untuk menyelenggarakan Pemilu serta memanfaatkan kemungkinan adanya ketidak-sinkronan hubungan antara penyelenggara pemerintahan sehubungan dengan majunya Presiden dan Wakil Presiden yang akan bertarung head to head dalam Pemilu mendatang. Sehingga Malaysia seolah sedang berencana apapun langkah yang akan dilakukan pemerintah tidak akan seoptimal seperti ketika konflik Ambalat mencuat pada tahun 2005 dan 2007.

Lalu benarkah akan terjadi perang antara Indonesia dan Malaysia ? Sepertinya kecil kemungkinan akan terjadi konflik terbuka antara kedua negara. Kedua pemerintahan pasti sudah paham betul dampak buruk apa yang akan muncul dari tindakan memulai perang di saat krisis ekonomi global sedang berlangsung.

Kedua pemerintahan pasti juga sudah menghitung-hitung skenario terburuk yang kemungkinan muncul jika perang benar-benar terjadi. Bagi pemerintah Indonesia, memulai perang dalam kondisi alutsista yang tidak optimal pasti jadi pertimbangan utama, selain juga karena mempertimbangkan semakin dekatnya penyelenggaraan Pemilu. Bagi pemerintah Malaysia, memulai perang sama saja dengan mengambil resiko wilayahnya akan dicaplok oleh negara lain. Ini mengingat Sarawak dan Sabah, dua negara bagian Malaysia berbatasan darat dengan Indonesia. Konflik terbuka akan membawa kemungkinan tentara Indonesia merangsek masuk melewati perbatasan Malaysia dan akan menjadi sangat sulit bagi tentara Malaysia untuk mempertahankan perbatasan karena luasnya wilayah perbatasan yang harus dijaga. Pemerintah kedua negara tampaknya sekarang juga sudah mulai saling menahan diri agar tidak benar-benar terjadi konflik terbuka. Walaupun dalam pernyataan di berbagai media massa nuansa saling klaim itu masih terasa.

Selama beberapa waktu sampai dengan penyelenggaraan pemilihan presiden mendatang, nampaknya hanya akan terjadi pancing-pancingan antara tentara kedua negara. Militer kedua negara akan saling memancing kira-kira siapa yang akan bertindak lebih dahulu. Jika militer negara lawan lebih dahulu menyerang maka tentu saja militer negara yang diserang akan membalas dengan berdalih sedang membela diri. Segala bentuk serangan juga akan menjadi alasan bagi negara yang diserang untuk membawa kasus tersebut ke level internasional. Selain itu siapapun yang memulai konflik terbuka pasti akan turun ratingnya dihadapan dunia internasional.

Penyelesaian terbaik kasus Ambalat tentu saja adalah melalui jalan diplomasi. Perundingan bilateral antara kedua negara harus terus dilakukan. Memang butuh kesabaran dari kedua belah pihak agar bisa menyelesaikan masalah secara damai. Seperti yang terjadi pada Maret 2009 lalu, dimana setelah 5 tahun berlalu, barulah Indonesia dan Singapura bisa mencapai kesepakatan dalam perjanjian batas maritim antara kedua negara.

Disamping itu kewaspadaan segala komponen dalam masyarakat Indonesia juga harus tetap dipertahankan. Hal tersebut diperlukan untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang akan muncul sebagai ekses dari timbulnya konflik Ambalat ini. Masyarakat sebaiknya harus tetap tenang dan tidak melakukan tindakan berlebihan yang dapat memicu timbulnya konflik terbuka.

Kasus Ambalat kembali menjadi pelajaran untuk kesekian kalinya kepada pemerintah. Dengan munculnya kembali “Krisis Ambalat” ini diharapkan dapat membuat pemerintah menjadi lebih serius menjaga wilayah kedaulatan Indonesia sehingga tidak akan ada lagi cerita mengenai lepasnya wilayah kedaulatan kita ke tangan negara asing.

Referensi :

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/Ambalat
  2. http://id.wikipedia.org/wiki/Sengketa_Sipadan_dan_Ligitan
  3. http://geo-boundaries.blogspot.com/2005/04/ambalat-spatial-perspective1.html
  4. http://www.dudung.net/artikel-islami/konflik-ambalat-hanya-menguntungkan-penjajah.html
  5. http://alimargono.wordpress.com/2008/05/04/ambalat-1/
  6. http://alimargono.wordpress.com/2008/05/04/ambalat-2/
  7. http://www.lampungpost.com/cetak/berita.php?id=2009060605264344
  8. http://dunia.vivanews.com/news/read/38633-ri_singapura_sepakati_sebagian_batas_maritim

Menulis = Sulit (?) Bagian 2

Lalu benarkah menulis itu sulit ? Dulu saya pernah membaca review tentang suatu buku (sayangnya saya lupa judul buku dan nama penulisnya siapa). Buku tersebut membahas segala seluk beluk tentang dunia penulisan. Menurut si penulis buku, menulis itu ibarat sedang mendayung perahu. Seorang penulis harus pandai-pandai memainkan tempo dayungan dan di lain waktu si penulis juga tetap masih bisa menikmati suasana mendayung. Biarkan perahu itu bergerak lamban, tidak tergesa-gesa karena butuh waktu dan kesabaran agar bisa sampai ke tempat tujuan. Jika perlu, biarkan perahu itu yang menentukan sendiri jalannya. Biarkan perahu pikiran itu bergerak maju, mundur, berputar, atau bahkan berhenti sejenak.

A. Fatih Syuhud, seorang penulis blog (yang termasuk kedalam golongan seleb blog) berpendapat bahwa menulis itu butuh latihan. Latihan itu bisa dimulai dengan rajin menulis dengan teratur, semakin sering dan teratur semakin baik. Beliau juga menyebut tidak perlu mood dan ilham untuk memulai menulis. Salah satu trik menulis yang dia berikan adalah membaca blog orang lain lalu menanggapi postingan di blog tersebut lewat blog sendiri. Trik menulis lain menurutnya adalah diniatkan untuk tidak membuat tulisan yang terlalu panjang. Jika ternyata kemudian tulisannya menjadi terlalu panjang dan ditengah jalan kehilangan mood untuk melanjutkan, maka sebaiknya tetap dipublish dengan diakhiri tulisan “bersambung” agar pembaca blog tahu bahwa tulisan itu belum selesai. Trik paling penting yang beliau berikan menurut saya adalah hindari keinginan berlebih untuk membuat tulisan yang sempurna. Jika keinginan berlebih itu muncul maka yang bisa terjadi adalah bukan tulisan sempurna yang akan didapat tetapi tulisan tersebut malah menjadi tidak pernah dipublish karena selalu dirasakan belum sempurna oleh si penulis.

Tetapi menurut saya, menulis tetap saja adalah hal yang sulit, terutama bagi pemula seperti saya. Menulis buat saya adalah sama halnya seperti kita sedang berkomunikasi dengan orang lain. Keinginan untuk tampil sempurna itu pasti akan ada. Keinginan untuk selalu menjadi pembicara yang didengar juga pasti ada. Itu sebabnya kadang-kadang saya sering menunda-nunda untuk menulis sesuatu, padahal ide-ide tulisan selalu berkeliaran di pikiran saya. Agaknya pendapat Pak Fatih ada benarnya juga. Hambatan yang paling besar tidak timbul dari luar, tetapi dari dalam diri seorang penulis sendiri. Sepertinya saya memang harus berlatih lebih banyak agar menulis tidak menjadi hal yang sulit lagi

Catatan :
Terima kasih buat Pak Fatih atas semua triknya yang sangat bermanfaat. Di post-post terakhir ini benar-benar saya praktekkan triknya. Sekaligus 3 trik yang sudah saya praktekkan, yaitu : membaca blog lain dan mengomentari di blog sendiri, posting secara teratur, dan menyambung post menjadi 2 saat sedang kehilangan mood untuk melanjutkan. :D

Menulis = Sulit (?)

Sudah 7 bulan usia blog ini, tapi ternyata blog ini baru diisi beberapa post saja. Dari beberapa post tadi juga tidak sepenuhnya murni hasil dari tulisan saya sendiri. Sebagian besar isi dari blog ini memang buah karya dari copy-paste. Bahkan bisa dibilang hanya satu post yang benar-benar curahan pemikiran saya, selebihnya hanya post-post penggembira agar blog ini tidak benar-benar terasa kosong.

Tujuan awal pembuatan blog ini memang semata-mata lahir dari keinginan saya untuk menjadi manusia narsis. Saya adalah pembaca dari blog-blog yang selalu dikunjungi oleh banyak orang, dan ditulis oleh (dalam istilah blogger) para seleb blog-yaitu penulis blog yang tiap kali membuat post baru selalu laris manis dikunjungi oleh banyak orang, dan biasanya dikuti dengan ratusan komentar dari pengunjung blog. Harapan saya ketika membuat blog ini tentu saja adalah suatu saat nanti akan bisa menjadi seperti para seleb  di dunia maya tersebut. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, saya menjadi lebih realistis. Siapa saya sampai berani berangan-angan terlalu tinggi seperti itu ? Bahkan orang-orang yang sudah menghabiskan waktu bertahun-tahun menulis di dunia maya saja tidak berani untuk bermimpi kelewat tinggi seperti yang saya lakukan. Mungkin ini yang dinamakan dengan “Waktu Yang Mendewasakan” (walaupun pada kenyataannya saya juga tidak merasa menjadi bijaksana-bijaksana amat :D ).

Sebenarnya beberapa bulan belakangan ini, saya mencoba untuk mempublish blog bukan di hostingan blog gratis. Walaupun web hostingnya masih web hosting gratis, tapi berbeda dengan wordpress.com atau web hosting blog gratis lainnya, web hosting ini tidak mengkhususkan pelayanannya untuk menjadi hosting blog saja. Web hosting tersebut dimaksudkan untuk menjadi host bagi situs-situs internet pada umumnya. Tapi tentu saja web hosting gratis tersebut masih bisa dipakai untuk menjadi hosting bagi blog, asalkan penulis blog harus mau melakukan usaha ekstra hanya agar blognya bisa eksis di internet.

Alasan saya membuat blog di web hosting lain agar isi blog bisa lebih disesuaikan dengan keinginan saya, seperti themes yang lebih banyak, varian plug-in yang bermacam-macam, serta beberapa kelebihan lainnya jika dibandingkan dengan blog yang ada di wordpress.com. Tentu saja saya masih menggunakan jasa wordpress untuk mempublish blog.

Tetapi lagi-lagi seiring dengan berjalannya waktu, blog yang dipublish dengan wordpress di web hosting gratis tersebut ternyata harus merana karena tidak pernah saya kunjungi lagi. Segala kelebihan yang dimiliki blog tersebut sepertinya sudah tidak begitu menarik minat saya (selain juga karena koneksi ke server web hosting gratisan tersebut yang semakin amburadul dari waktu ke waktu). Sekarang saya juga sudah tidak begitu ambil pusing dengan tampilan yang wah atau fitur yang beragam dari suatu blog. Apalah artinya blog dengan tampilan bagus serta fitur yang komplit tapi kosong melompong karena tidak pernah diisi dan dikunjungi. Lagi-lagi “Waktu Yang Mendewasakan” punya peranan disini :D .

Beberapa hari yang lalu saya juga mencoba untuk membuat blog baru di hosting blog gratis yang lain. Kali ini tujuan pembuatannya berbeda. Tidak seperti saat saya membuat blog ini,tujuan pembuatan blog baru tersebut karena saya merasa perlu untuk memberikan sesuatu ke orang banyak. Pikiran saya , walaupun se-naif dan sesederhana apapun itu, pasti akan menghasilkan sesuatu buat orang lain, entah itu hasil yang baik atau buruk, tapi pasti akan ada sesuatu yang akan didapat oleh para pengunjung blog.

Pembuatan blog baru tersebut kemudian menggugah keinginan saya untuk menghidupkan lagi blog ini. Akhirnya setelah berbulan-bulan berlalu, blog ini sepi postingan, maka muncullah postingan ini. Postingan ini sekaligus sebagai bentuk rasa terima kasih saya pada orang-orang yang telah melakukan banyak hal hanya agar para penulis blog awam seperti saya ini bisa dengan mudah menuangkan pikirannya di dunia maya. Terima kasih kepada konseptor, pembuat, pengelola hosting blog gratis seperti wordpress.com, serta kepada penemu dan pembuat wordpress. Terutama saya juga ingin berterima kasih pada semua pengunjung blog ini karena saya lihat dari statistik pengunjung blog, masih ada saja orang yang tersesat ke blog ini, padahal postingan terakhir sudah berjarak lebih dari 5 bulan. Semoga blog ini dapat memberikan “sesuatu” pada anda semua, dan semoga “sesuatu” itu adalah sesuatu hal yang baik yang dapat anda manfaatkan.

Lama-lama saya malah seperti sedang memberikan pidato terima kasih di acara award-award-an saja. :P

bersambung…

Sepatu Untuk Bush

Presiden George W. Bush, penguasa negara adidaya, dalam kunjungannya ke Irak mendapatkan kejutan berupa sepatu oleh seorang jurnalis Irak. Bush dilempari dua buah sepatu oleh seorang jurnalis warga Irak bernama Muntadar Al Zeidi dari televisi Al-Baghdadia. Aksi pelemparan itu dilakukan ketika Bush sedang mengadakan konferensi pers bersama Perdana Menteri Irak Nouri Al Maliki. “Ini adalah ciuman perpisahan, kamu a####g !” teriak Muntada ketika melemparkan sepatu ke arah Bush. Untungnya Bush sempat menghindar sehingga dua buah sepatu itu tidak sempat mengenai dirinya. Kedua buah sepatu itu hanya melayang beberapa cm dari kepalanya dan kemudian jatuh membentur tembok di belakang Bush. Nouri Al Maliki yang berada di samping Bush sempat membantu dengan menangkis salah satu sepatu dengan tangannya. Agaknya para wartawan dan petugas keamanan yang berada di konferensi pers benar-benar tidak menyangka aksi mengejutkan itu akan terjadi. Sampai-sampai butuh beberapa detik setelah pelemparan sepatu itu selesai dilakukan baru kemudian para wartawan dan petugas keamanan yang berada di sana segera menyergap Muntada dan menariknya ke lantai. “Sepatu itu ukuran 10″ canda Bush beberapa saat kemudian.

Dalam budaya Irak, melempar sepatu ke arah seseorang adalah suatu bentuk penghinaan. Warga Irak menginjak-injak patung Saddam Hussein dengan sepatu mereka segera setelah patung itu dirobohkan oleh pasukan Amerika pada invasi yang dilakukan di tahun 2003.

Penasaran seperti apa oleh-oleh sepatu yang diberikan warga Irak bagi Bush?
berikut ini cuplikannya…

Sumber :

  1. msnbc.com
  2. youtube.com

Berapa Sih IP Address Kamu ?

Pernah suatu saat teman saya menanyakan itu. Pertanyaan yang agak tidak lazim menurut saya, karena biasanya pengguna internet sudah merasa cukup puas ketika telah terkoneksi ke internet tanpa harus mengetahui seluk beluk tentang IP address, apalagi sampai harus repot-repot bertanya IP address orang lain. “Buat apa kamu mau tahu IP address saya ? Apa sih tujuan kamu tanya-tanya soal IP address saya ?” Saya balik bertanya lagi…tentu saja cuma di dalam hati saya bertanya. Kemudian dengan sedikit mengelak dan mencoba untuk mengalihkan perhatian, saya lalu menjawab, “Untuk speedy office, IP addressnya statik. Kalo speedy personal, IP addressnya dinamik.” Jawaban yang mungkin agak tidak nyambung dan tidak menjawab pertanyaan. Teman saya itu hanya berkata “ooo…”. Entah “ooo…” itu berarti dia paham atas jawaban saya atau “ooo…” yang berarti menyindir atas pengelakan saya menjawab pertanyaannya.

Mungkin anda juga jadi bertanya-tanya, “Apa pentingnya sih IP address itu ?” atau “Emangnya gak boleh pengen tau IP address orang lain ?”.

Read the rest of this entry »

Mobil Hantu

Gara-gara terlalu asyik memotret sunset dan mengeksplorasi wilayah yang baru pertama kali dia kunjungi, seorang fotografer baru menyadari bahwa dia sudah tersesat dan ditinggal oleh rombongannya. Kemudian tanpa disangka-sangka, hujan badai turun. Spontan fotografer itu bete abis… udah tersesat, gelap, ujan pula. Tapi akhirnya timbul harapan… Di ujung jalan dia melihat lampu mobil perlahan-lahan mendekat.

Tidak mau kehilangan kesempatan, dia melambaikan tangannya untukmeminta tumpangan. Ketika mobil tersebut mendekat, tanpa mau membuang waktu, sang fotografer langsung naik ke mobil, duduk dan kaget karena dia baru menyadari bahwa mobil tersebut tidak ada yang mengemudikan. Tapi daripada bete, fotografer tersebut tetap bertahan berada di dalam mobil, sambil berdoa (menurut agamanya)

Dalam perjalanan di dalam mobil yang berjalan dengan pelan sekali, ketika mobil sepertinya akan menabrak pohon atau jatuh ke jurang, tiba-tiba muncul sebuah tangan dan mengendalikan setir agar mobil tidak menabrak atau jatuh ke jurang. Hal tersebut terus terjadi berulang kali.

Akhirnya, ketika mobil mendekati sebuah warung kopi, fotografer tersebut buru-buru turun dan memesan secangkir kopi. Sambil menangis terisak-isak, fotografer tersebut menceritakan kejadian seram yang baru saja dia alami. Setelah selesai bercerita, fotografer tersebut akhirnya pingsan kelelahan dan juga karena menahan rasa takut.

Mendadak, dua orang berpakaian kotor dan basah kuyup masuk ke dalam warung kopi dan melihat sang fotografer yang sedang pingsan. Spontan salah satu dari mereka berkata, “Itu dia kampret yang numpang mobil yang sedang kita dorong ! “.

Optimis

Source :

- mailing list

Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak
ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada
tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin saja anda mengalami pengalaman buruk
yang tak mengenakkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari
salah satu sisi saja. Bila anda berani menengok ke sisi yang lain, anda
akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Anda tidak harus menjadi
orang yang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang ceria. Optimisme
terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis,
karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis.

Setiap tetes air yang keluar dari mata air, mereka mengetahuinya kalau
mereka mengalir menuju ke laut. Meski harus melalui anak sungai,
selokan, kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka
bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di samudra, setiap tetes air
tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk
gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan
rerumputan, sebagian tertampung dalam sumur-sumur. Sebagian kembali ke
laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang anda temui
di selokan rumah anda?

Dalam perjalanan hidup ini, kita sering kali kecewa…kecewa sekali.
Sesuatu yang luput dari genggaman, keinginan yang tak tercapai,
kenyataan yang tidak sesuai harapan..Ukh. ..semua itu telah hadirkan
nelangsa yang begitu menggelora dalam jiwa. Sungguh sangat beruntung
andai dalam saat-saat terguncangnya jiwa, masih ada setitik cahaya dalam
kalbu untuk merenungi kebenaran. Masih ada kekuatan untuk melangkahkan
kaki mencari ilmu, mencari rejeki, kebahagiaan yang akan menghantarkan
pada ketentraman jiwa.

Hidup ini ibarat belantara, tempat kita mengejar berbagai keinginan, dan
memang manusia diciptakan mempunyai kehendak, mempunyai keinginan.
Tetapi tidak setiap keinginan yang kita inginkan bisa terbukti, tidak
setiap yang kita mau bisa tercapai. Tidak mudah menyadari bahwa apa
yang bukan menjadi hak kita tak perlu kita tangisi. Banyak orang yang
tidak sadar bahwa hidup ini tidak punya satu hukum : harus sukses, harus
bahagia, atau harus-harus yang lain. Betapa banyak orang yang sukses
tetapi lupa bahwa sejatinya itu semua pemberian dari Allah, hingga
membuat sombong dan berbuat sewenang-wenang. Begitu juga kegagalan
sering tidak dihadapi dengan benar. Padahal dimensi dari kegagalan
adalah tidak tercapainya apa yang memang bukan hak kita. Padahal hakekat
kegagalan adalah tidak terengkuhnya apa yang memang bukan hak kita.

Apa yang memang menjadi bagian dari kita di dunia, entah itu rejeki,
jabatan, kedudukan, pasti Allah sampaikan. Tetapi apa yang memang bukan
milik kita, ia tidak akan bisa kita miliki, meski ia nyaris menghampiri
kita, meski kita mati-matian mengusahakannya.

Any Monkey Can Blog

Source :

- blaugh.com

blogging_monkey

All About Newbie

Source :

- answers.com

- wikipedia

Newbie (juga disebut sebagai nooby atau newby) adalah kosakata slang bagi para pemula di online gaming atau di aktivitas internet lain. Newbie juga biasa digunakan untuk aktivitas lain dimana seorang pemula yang sedang merasa kebingungan berada. Newbie bisa berkonotasi untuk merendahkan, tapi kadang-kadang juga bisa digunakan untuk mendeskripsikan sesuatu dan bukan untuk menilai sesuatu.

Ada beberapa pendapat mengenai asal muasal kata newbie. Ada yang mengatakan bahwa kosakata newbie berasal dari sekolah negeri di Inggris atau dari istilah slang di militer yang digunakan oleh tentara AS pada saat perang Vietnam, dimana makna kata newbie pada saat itu adalah orang baru di dalam tim. Selain itu ada juga yang berpendapat bahwa kosakata newbie bermula dari istilah di footbal dimana seorang pemain junior biasa “dikerjai” oleh para pemain senior.

Tapi pendapat yang paling populer mengenai awal kata newbie tentu saja berasal dari kosakata yang biasa dipakai di dunia maya atau internet. Konon, kata newbie mulai populer di dekade 90-an dimana pada waktu itu internet sedang mengalami booming. Istilah newbie ditujukan bagi para pemula yang mulai membanjiri dunia internet sehingga membuat para pemain lama di dunia maya merasa sedikit agak terusik keberadaannya.

Arti kata, pembedaan jenis, serta penggunaan kata newbie juga ada beberapa macam. Dalam dunia gaming, newbie dibedakan jadi 2, “newb” dan “noob”. “Newb” ditujukan bagi para pemain pemula yang benar-benar tidak berpengalaman dalam memainkan suatu game, baik karena ketidaktahuannya mengenai cara bermain atau ketidaktahuan mengenai etiket di dunia gaming. Sedangkan “noob” adalah pemain yang sebenarnya telah berpengalaman di dunia gaming dan telah mengetahui etiket dalam dunia gaming, tetapi pemain tersebut sengaja untuk tidak “menaati” tata cara permainan yang biasa berlaku di dunia gaming.

Di dunia militer, istilah newbie juga dikenal. Kata N.U.B. (Non Useful Body / Nuclear Unready Body) sering disamakan dengan kata newbie. Istilah ini biasa digunakan di angkatan laut terutama bagi tentara yang bertugas di kapal selam. Seorang kelasi yang ditugaskan di kapal selam harus mendapat kualifikasi tertentu agar dia bisa diberikan tugas-tugas khusus di kapal selam. Sebelum kelasi memperoleh kualifikasi tersebut, maka dia akan memperoleh predikat N.U.B dari rekan-rekan sesama tentara. Predikat N.U.B ini biasanya berkonotasi merendahkan karena penyandang gelar ini dianggap tidak berpengalaman dan tidak berguna.

Ada beberapa istilah kata dan cara pengejaan yang dianggap mempunyai persamaan arti dengan kata newbie, yaitu : “nooblet”, “nub”, “nubcakes”, “nubcracker”, dan “chobo” (dalam bahasa korea).