Newbie On The Blog

Sekedar Basa-Basi Dari Seorang Newbie

Review Firefox 4

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Mozilla merelease Firefox versi 4. Selain dilengkapi dengan fitur-fitur terbaru, tentu saja tampilannya juga banyak berubah. Berikut ini adalah review saya mengenai web browser yang berlogo rubah meringkuk tersebut.

Tampilan

Tampilan terbaru Firefox memang terkesan simple namun tetap terlihat anggun. User interface Firefox menurut penilaian subjektif saya, kemungkinan merupakan perpaduan antara web browser lainnya, seperti Opera dan Google Chrome. Tapi tentu saja, tampilan Google Chrome dan Opera juga agak mirip. Jadi agak sulit juga rasanya mengetahui kira-kira web browser mana yang terlebih dahulu meniru dan sebaliknya web browser mana yang ditiru. Kemiripan ini semakin terlihat ketika di Firefox tidak ditampilkan menu bar. Hampir 70 % ada kesamaan, termasuk di button menu. Hanya saja button menu Opera menurut saya sedikit lebih artistik daripada button menu Firefox. Perbedaan lainnya menu bar Firefox terdiri dari 2 kolom sedangkan Opera hanya 1 kolom.

Keputusan developer Firefox untuk lebih memadatkan navigation toolbar menurut saya merupakan keputusan yang tepat. Tombol “back” dan “forward” dipisahkan dari tombol “reload”. Sama seperti Google Chrome, tombol “bookmark” diletakkan di location bar, jadi lebih memudahkan untuk membuat bookmark pada website yang sedang dikunjungi. Di sebelah kanan dari Search bar terdapat button Home Page dan Bookmark. Menu Bookmark yang diberikan button tersendiri juga akan sangat memudahkan pengguna untuk membuka website yang sudah dibookmark sebelumnya.

Salah satu keunggulan Firefox jika dibandingkan dengan web browser lain adalah pengguna dapat dengan mudah mengganti tampilan theme Firefox. Ada sekitar 30.oo0 themes Firefox yang dapat digunakan di situs getpersonas.com.

Fitur

Ada beberapa fitur baru Firefox yang menarik perhatian saya. Salah satunya adalah App Tabs. App Tabs hampir mirip fungsinya dengan pin shortcut ke taskbar di Windows 7. App Tabs dapat menjadi semacam shortcut bagi situs-situs social networking yang sering anda kunjungi. Penjelasan detil fitur ini ada disini.

Fitur baru Firefox lainnya adalah Tab Groups. Tab Group adalah fitur untuk mengatur tab ke dalam beberapa kelompok. Untuk mengetahui lebih detil mengenai Tab Group dan cara pengunaannya ada disini.

Selain itu ada juga Firefox Sync. Fitur ini digunakan membackup bookmark, daftar password, daftar website yang pernah dikunjungi (history) untuk digunakan di komputer lain. Untuk menggunakan fitur ini, anda harus membuat akun terlebih dahulu karena backup data akan disimpan di server Mozilla. Sehingga  anda hanya perlu terkoneksi ke internet untuk melakukan sinkronisasi data browsing. Mungkin anda kemudian akan merasa ragu-ragu tentang keamanan data yang sudah dibackup tersebut, mengingat data akan disimpan di server Mozilla. Jangan kuatir…pada saat pembuatan akun Firefox Sync sekaligus akan mendapatkan Sync Key untuk mengenkripsi data sebelum dikirim ke server Mozilla,. Sehingga tidak ada orang (termasuk dari Mozilla) yang bisa mengintip data pribadi anda. Dengan kata lain, Firefox Sync bisa berfungsi semacam Safe Deposit Box di bank.

Bagi anda yang sering browsing internet di komputer umum seperti kantor, kampus, sekolah, atau warnet dan merasa takut “dimata-matai” oleh orang lain, maka anda bisa menggunakan fitur Private Browsing. Private Browsing berfungsi hampir sama seperti “Incognito” di Google Chrome. Dengan mengaktfikan Private Browsing maka Firefox tidak akan menyimpan riwayat situs yang pernah anda kunjungi, daftar keyword yang pernah diketik di search bar, atau data-data sensitif lain yang berhubungan dengan kebiasaan anda menjelajah internet. Namun sayangnya, fitur ini sifatnya harus diaktifkan dan dinonaktifkan. Sehingga untuk menggunakan fitur ini harus mengaktifkan lebih dulu. Begitu juga sebaliknya, untuk berhenti menggunakan fitur ini harus menonaktifkan fitur terlebih dahulu. Agak rumit menurut saya, apalagi bila dibandingkan dengan fitur “Incognito” di Chrome yang lebih simple karena dapat dibuka di window baru, sehingga tidak perlu diaktifkan-dinonaktifkan terlebih dahulu.

Saya kurang begitu mengetahui apakah fitur ini sudah ada di versi sebelumnya atau tidak, tapi yang jelas saya baru saja menjajal fitur full screen di Firefox 4. Fitur ini akan sangat berguna terutama ketika kita sedang melihat streaming di situs-situs yang menyediakan video streaming, seperti Yotube, dsb.

Fitur Firefox yang paling menonjol menurut saya adalah adanya add-ons di Firefox. Add-ons ini sangat berguna terutama untuk menambahkan aplikasi-aplikasi yang tidak ada di Firefox secara default. Salah satu add-ons Firefox favorit saya tentu saja adalah Adblock :D Tapi sayangnya add-ons Internet Download Manager belum tersedia untuk Firefox versi 4, jadi saya agak merasa kerepotan untuk mendownload video di Youtube. Tapi untunglah add-ons Flashgot dapat digunakan di Firefox 4.

Performance

Yang paling penting dari semua itu tentu saja adalah bagaimana performa Firefox jika dibandingkan dengan web browser yang lain. Developer Firefox mengklaim bahwa Firefox 4  lebih unggul dari web browser lain, terutama untuk meningkatkan kecepatan load website. Berhubung koneksi internet saya yang tidak terlalu stabil, maka saya tidak dapat melakukan tes apakah klaim itu memang benar adanya. Tapi menurut penilaian subjektif saya, Firefox sejak dari versi yang terdahulu memang lebih cepat untuk me-load website dibandingkan dengan web browser lain. Sayangnya, waktu start up Firefox masih agak lebih lama dari web browser lain. Selain itu, memory usage Firefox masih sama dengan versi sebelumnya yang tergolong rakus menyedot memori.

Kesimpulan

Firefox 4 adalah suatu aplikasi yang tidak lepas dari kelemahan dan kekurangan. Tapi kelemahan dan kekurangan tersebut dapat tertutupi oleh segala kelebihan yang dimilikinya. Keunggulan tersebut antara lain dari segi tampilan terutama kemudahan mengganti theme / skin Firefox, adanya aplikasi tambahan berupa add-ons, serta berbagai fitur-fitur baru yang dimiliki Firefox 4. Semoga kemunculan Firefox 4 akan menjadikan Firefox sebagai leader dalam jajaran aplikasi web browser :D

Tragedi E-Mail Staf Ahli

Masih ingatkah anda dengan iklan salah satu produk mie instan yang sempat mengundang kontroversi beberapa waktu lalu ? Saking kontroversial iklan ini hingga membuat lembaga negara sekelas Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sampai harus turun tangan menghimbau semua stasiun televisi untuk tidak menayangkan lagi iklan tersebut. Video berikut mungkin bisa menyegarkan ingatan anda

atau versi lain

Salah satu alasan KPI mengeluarkan surat himbauan kepada seluruh stasiun televisi swasta karena iklan mie instan yang dimaksud telah melanggar Standar Program Siaran (SPS) KPI. Iklan tersebut dianggap oleh KPI menampilkan adegan yang menyesatkan atau tidak pantas dilakukan oleh anak-anak sehingga tidak boleh ditayangkan lagi.

Baru-baru ini, publik juga kembali dihebohkan dengan perilaku “unik” anggota dewan kita. Kali ini bukan menyangkut ngototnya anggota dewan untuk merenovasi gedung miring atau komentar-komentar “cerdas” yang keluar dari Ketua DPR. Bukan juga soal salah klik “link” di rapat paripurna yang menjurus ke pornografi, tapi soal penyebutan e-mail milik “staf ahli” anggota DPR.

Insiden penyebutan e-mail itu terjadi di negeri kangguru, saat beberapa anggota dewan dari Komisi 8 DPR RI sedang berdiskusi dengan mahasiswa yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia (PPIA). Pertemuan antara anggota Komisi 8 DPR RI dengan mahasiswa PPIA terjadi setelah timbul perdebatan di publik mengenai perlu-tidaknya dilakukan studi banding Komisi 8 ke Australia.

“Keunikan” itu terjadi saat diskusi akan diakhiri. Seorang anggota Komisi 8 dalam kata penutupnya menekankan bahwa Komisi 8 DPR RI terbuka untuk menerima segala masukan. Mahasiswa PPIA yang agaknya merasa tidak terlalu puas dalam diskusi tersebut kemudian mencoba menanyakan alamat e-mail Komisi 8. Beberapa anggota dewan yang terlihat dalam video seperti agak salah tingkah saat menerima pertanyaan tersebut. Entah salah tingkah karena sudah tidak sabar untuk melanjutkan studi banding atau salah tingkah karena tidak mampu menjawab pertanyaan simpel tersebut. Seorang diantaranya dengan ekspresif terlihat meminta bantuan seseorang dari Sekretariat Komisi yang ikut dalam rombongan. Namun sayangnya anggota rombongan tersebut juga tidak mengetahui alamat e-mail resmi Komisi 8.

Berhubung semakin tidak jelasnya alamat e-mail resmi Komisi 8 DPR RI, maka perwakilan Komisi 8 menawarkan untuk memberikan alamat e-mail pribadi dari beberapa anggota Komisi 8. Penawaran tersebut tentu saja tidak digubris oleh mahasiswa PPIA. Hingga salah seorang dari anggota Komisi 8 akhirnya menyebutkan e-mail yang dianggap sebagai alamat e-mail resmi dari Komisi 8. Yang mengundang keriuhan dari peserta diskusi adalah keanehan alamat e-mail suatu lembaga resmi yang didaftarkan pada e-mail provider gratisan. Belakangan ternyata diakui bahwa alamat e-mail tersebut adalah e-mail staf ahli Komisi 8 DPR RI

Terus terang saya menjadi bingung, entah harus mentertawakan kekonyolan tersebut atau justru harus menangisinya ? Agak tidak masuk akal buat saya, lembaga negara seperti DPR dengan alat kelengkapannya ternyata tidak mempunyai alamat e-mail resmi. Bahkan mahasiswa di universitas swasta saja akan secara otomatis mendapatkan e-mail pribadi segera setelah ia resmi terdaftar sebagai mahasiswa. Atau apakah lembaga negara & anggota dewan kita berperilaku amat bersahaja sehingga merasa sayang untuk menghamburkan uang ekstra untuk membuat mail server yang bisa menampung segala keluh-kesah rakyat Indonesia ? Atau mungkin mereka berpedoman KISS (Keep It Simple Stupid) sehingga tidak perlu menggunakan teknologi modern & canggih untuk sekedar menerima atau mengirim surat, cukuplah hanya menggunakan metode konvensional lewat bantuan Pak Pos saja.

Saya juga agak sulit membayangkan, bagaimana kira-kira raut muka kolega mereka sesama anggota dewan dari negara lain saat menanyakan alamat e-mail para anggota DPR. Bisa jadi para anggota dewan dari negara lain kemudian akan menganggap seluruh anggota DPR Indonesia sekaligus juga merangkap jabatan sebagai brand ambassador dari mail provider tersebut. Sungguh suatu hal yang aneh tapi nyata yang dilakukan oleh wakil rakyat dari Indonesia yang seharusnya lebih cerdas dari rakyat yang diwakilinya.

Yang agak serius dan sekaligus berhubungan dengan pembukaan posting ini adalah adakah kemungkinan anggota dewan dari Komisi 8 DPR RI sedang melakukan kebohongan publik ? Ini didasari dari upaya beberapa media massa dan mahasiswa PPIA yang mencoba mengirim e-mail ke alamat e-mail yang diakui sebagai e-mail resmi Komisi 8 DPR RI atau (belakangan diakui) e-mail staf ahli Komisi 8 DPR RI, namun ternyata alamat e-mail yang dimaksud tidak valid. Salah satu dari kemungkinan alamat e-mail “resmi” yang coba dikontak memang benar ada, tetapi sang pemilik e-mail tersebut justru membantah jika alamat e-mail yang dimilikinya adalah e-mail resmi dari Komisi 8 DPR RI.

Jika iklan mie instan yang “mengajari” anak berbohong saja sudah dibreidel penayangannya karena dianggap menyesatkan, lalu bagaimana dengan anggota DPR RI dari Komisi 8 yang terang-terangan berbohong di muka publik ? Sebuah iklan yang dianggap “mengajari” berbohong ditarik dari peredaran karena dianggap berpotensi menjadi contoh jelek, padahal dalam kenyataannya belum tentu perbuatan berbohong dalam iklan itu akan benar-benar ditiru. Di lain pihak, bagaimana dengan pejabat negara yang terang-terangan berbohong ? Bukankah orang tersebut juga secara terang-terangan telah mengajari dan memberi contoh untuk berbohong ?

Disini saya tidak mencoba mengajari mengenai etika kepada para anggota dewan yang terhormat karena saya yakin mereka jauh lebih beretika dan lebih cerdas daripada saya. Buktinya mereka bisa dipilih secara langsung oleh puluhan atau ratusan ribu rakyat Indonesia. Sedangkan saya, seandainya menjadi calon Ketua RT saja sepertinya orang-orang juga akan enggan memilih saya. Tetapi pesan moral yang seharusnya diambil dari kejadian konyol ini adalah jika anda tidak tahu katakanlah tidak tahu & jangan menjadi sok tahu dengan berpura-pura tahu. Pesan moral yang lain, jika para anggota dewan masih merasa bingung membuat e-mail, mungkin anda bisa meminta bantuan dari orang-orang yang sudah ahli. Itulah gunanya staf ahli yang nantinya akan disubsidi dan dibayari gajinya oleh seluruh rakyat Indonesia.

Berita baiknya adalah, sekarang Komisi 8 sudah memiliki alamat e-mail resmi di set_komisi8@dpr.go.id. Adakah diantara anda yang ingin berkirim surat dengan mereka ? :D

Tutorial Install Linux Mint Julia

Prosedur instalasi Linux Mint sebenarnya tidak terlalu berbeda dengan cara penginstallan pada distro linux kebanyakan. Tampilan user interface yang simpel  pada saat instalasi akan sangat memudahkan pengguna, terutama pengguna yang masih awam mengenai linux. Yang sedikit membedakan pada tahapan instalasi Linux Mint dibandingkan dengan distro lainnya adalah keharusan komputer terkoneksi ke internet selama proses instalasi berlangsung.

Sebelum memulai instalasi, pastikan spesifikasi komputer anda sudah sesuai dengan spesifikasi minimal yang terdapat di situs Linux Mint agar proses instalasi dapat berjalan dengan lancar. Berbeda dengan Ubuntu, Linux Mint tidak menyediakan versi alternate install yang diperuntukkan bagi komputer yang tidak memenuhi spesifikasi minimal untuk instalasi Linux Mint.

Yang menyenangkan dari instalasi distro linux menggunakan Live CD adalah anda bisa melakukan “test drive” terlebih dulu untuk mengetahui apakah hardware komputer anda bisa berfungsi ketika menggunakan distro tersebut. Pengguna yang awam mengenai linux juga dapat terlebih dulu beradaptasi dengan interface linux yang sedikit berbeda dengan interface windows menggunakan Live CD.

Bagi pengguna yang suka utak-atik komputer, Live CD juga bisa digunakan untuk maintenance system terutama untuk recovery data seandainya instalasi windows / linux anda bermasalah. Live CD linux lebih unggul daripada Live CD versi windows semacam Bart PE atau Windows PE karena Live CD linux sudah berisi semua program-program standar yang biasa ada di instalasi linux. Program-program standar tersebut antara lain open office untuk mengetik, web browser, media player, program cd burning, program untuk edit gambar, dsb. Dengan kata lain, hanya berbekal sekeping CD, anda bisa menggunakan seluruh program yang anda butuhkan tanpa harus terlebih dulu menginstallnya di komputer. Tentu saja untuk menggunakan Live CD linux anda  harus mengetahui cara untuk booting dari CD di BIOS.

Tahapan awal untuk menggunakan Live CD linux adalah setting booting ke CD-ROM di BIOS. Beberapa saat setelah anda menghidupkan komputer, biasanya akan muncul beberapa tulisan di layar monitor, diantaranya adalah tulisan tombol keyboard yang harus ditekan untuk bisa masuk ke settingan BIOS. Tombol keyboard untuk masuk ke settingan BIOS berbeda-beda tergantung dari merk motherboard yang anda gunakan, tapi biasanya tombol settingan BIOS adalah “Delete”  (“Del”) atau “F2″. Setelah anda berhasil masuk ke BIOS, cari menu untuk mengatur prioritas booting dan setting komputer untuk booting ke CD-ROM. Jangan lupa untuk save settingan BIOS sebelum anda keluar dari BIOS.

Setelah anda merasa nyaman menjajal fitur-fitur linux yang ada di Live CD kemungkinan anda akan segera berkeinginan untuk menginstall linux ke hard disk.  Untuk memulai instalasi Linux Mint Julia, klik icon “Install Linux Mint” yang ada di Desktop. Akan ada pilihan bahasa yang digunakan selama proses instalasi. Pilih bahasa yang diinginkan dan klik “forward”.

Berikutnya adalah proses partisi hard disk. Opsi yang diberikan adalah “Install alongside other operating system” untuk melakukan dual booting Linux Mint dengan OS lain; “Erase and use the entire disk” untuk memformat serta mempergunakan seluruh kapasitas hard disk untuk Linux Mint & tidak melakukan dual booting dengan OS lain; dan “Specifiy partition manually”. Pilih “Specify partition manually” kemudian klik “forward”. Pada menu berikut anda dapat memilih partisi hard disk yang akan diinstall Linux Mint atau anda dapat melakukan partisi ulang dengan men-delete partition yang sudah ada lalu klik “New partition table” untuk membuat partisi baru. Patut diingat, proses partisi hard disk dalam tutorial ini diperuntukkan bagi anda yang ingin memilih akan menginstall linux di partisi tertentu atau untuk membuat partisi baru dengan size partisi yang lebih besar. Jika anda merasa ragu-ragu melakukan partisi secara manual maka anda dapat memilih opsi “Install alongside other operating system” di menu sebelumnya.

Jika anda menginginkan membuat partisi baru maka klik “New partition table”, lalu atur berapa size yang anda inginkan untuk partisi tersebut. Di opsi “use as” pilih “ext4″. Jika anda juga ingin membuat partisi baru yang dapat digunakan oleh windows, pilih “FAT32″ atau “NTFS” di opsi “use as”.  Sedangkan untuk swap memory (semacam virtual memory di windows) pada opsi “use as” pilih “swap”.  Anda juga bisa memilih mount point untuk partisi tersebut, termasuk untuk meletakkan “/home” di partisi lain (“/home” semacam folder “My Document” di windows). Setelah itu klik “install now” untuk segera memulai proses instalasi Linux Mint.

Ketika proses instalasi sedang berlangsung, maka anda akan disuguhi menu untuk mengisi beberapa pilihan mendasar mengenai lokasi dan zona waktu dimana anda berada. Setelah itu akan muncul menu untuk mengisi identitas seperti nama anda, nama komputer & password yang diinginkan.

Sembari menunggu proses instalasi selesai, anda dapat browsing dengan Firefox atau melihat video streaming di Youtube.

Solusi Gagal Booting CD-ROM

Pada postingan sebelumnya, saya mengalami masalah sewaktu akan menginstall Ubuntu. PC yang saya gunakan hanya bisa booting dari hard disk dan tidak bisa booting dari CD-ROM. Padahal di BIOS sudah saya set untuk booting dari CD-ROM. Dari hasil googling, saya bisa menemukan solusi dari masalah tersebut. Solusi yang sebenarnya sangat sederhana, tapi cukup membantu untuk mengatasi masalah saya.

Solusi untuk mengatasi PC yang gagal booting dari CD-ROM adalah dengan set booting dari floppy disk. Kalau untuk kasus saya, urutan bootingnya diset ke floppy disk sebagai prioritas pertama, kemudian baru diset booting dari CD-ROM sebagai prioritas booting berikutnya.

Untunglah saya masih menyimpan floppy drive karena biasanya PC rakitan model terbaru sudah tidak menyertakan floppy drive lagi. Fungsi floppy drive sebagai media penyimpan memang sudah jarang digunakan karena sudah digantikan oleh CD-RW, DVD-RW, flash disk, atau bahkan hard disk external yang menjadi media penyimpan data dalam kapasitas yang jauh lebih besar dari floppy disk.

Setelah BIOS diset untuk booting dari floppy disk, jangan lupa untuk memasukkan disket ke floppy drive. Tunggu sampai proses booting ke floppy selesai, setelah itu akan keluar notifikasi gagal booting dari floppy drive, dan kita diminta untuk memilih booting dari media lain. Pilih booting dari CD-ROM, dan secara ajaib, PC akan bisa booting dari CD-ROM lagi :D

Solusi sederhana, tapi sangat membantu orang-orang seperti saya yang mengalami masalah gagal booting CD-ROM pada PC jadul. Pesan moralnya adalah : Jangan buang barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai (kalau dalam kasus ini, floppy disk) karena mungkin saja barang bekas itu masih bisa anda gunakan lagi.

Kembali Ke Ubuntu (2.2)

Setelah lumayan sukses melakukan migrasi ke server Open Source, lagi-lagi saya dihinggapi kerinduan untuk bisa berinteraksi dengan Ubuntu. Apalagi versi Ubuntu terbaru, Karmic Koala sudah direlease. Seingat saya, terakhir kali menginstall Ubuntu masih menggunakan Jaunty Jackalope. Itupun tidak bisa terlalu lama saya menggunakan Jaunty karena seperti disebut dalam postingan terdahulu, ada masalah hardware di komputer, selain juga karena rendahnya spesifikasi komputer yang saya gunakan. Itu sebabnya saya kembali beralih ke “Jendela”.

Baru sekitar sebulan yang lalu, bersamaan dengan upgrade hardware komputer server, saya juga mengupgrade PC yang biasa saya gunakan. Setelah diupgrade RAM menjadi 768 MB. Kemudian mulailah saya mencari-cari CD installer Ubuntu yang sudah lama disimpan. Terus-terang saya kurang begitu ingat apa kira-kira alasan untuk menginstall Ubuntu justru bukan versi yang paling baru. Saya malah menginstall Intrepid Ibex terlebih dahulu, untuk kemudian diupgrade menjadi Jaunty lewat CD versi alternate installer.

Proses upgrade dari Interpid menjadi Jaunty dapat saya lakukan dengan tanpa banyak masalah. Tinggal memasukkan CD installer ke DVD ROM maka Ubuntu secara otomatis akan menawarkan untuk mengupgrade sesuai dengan versi CD installer yang telah dimasukkan ke dalam DVD ROM. Tentu saja sesuai petunjuk dari dokumentasi Ubuntu, wajib untuk mengupdate terlebih dahulu versi Ubuntu yang sudah diinstall untuk kemudian baru dijalankan proses upgrade. Masalah muncul waktu saya ingin mengupgrade dari Jaunty ke Karmic Koala. Ternyata Ubuntu mengalami kesulitan untuk menemukan source untuk mengupgrade menjadi Karmic, padahal saya sudah memasukkan CD installer Karmic ke DVD ROM. Merasa penasaran, saya kemudian juga mencoba mengupgrade lewat internet, tapi sama saja, Ubuntu gagal untuk memilih source upgrade.

Ada alasan mengapa saya memilih bersusah payah mengupgrade Ubuntu dan bukannya langsung melakukan fresh install. Alasannya adalah PC tidak bisa melakukan booting lewat DVD ROM, padahal di BIOS sudah diset untuk booting hanya dari CD-ROM, tapi PC (tanpa diketahui penyebabnya) memilih hanya melakukan booting dari hard disk. Setelah mencoba googling kemudian bisa didapat solusi sederhana untuk masalah ini. (solusinya akan saya post di postingan berikutnya)

Berkat solusi sederhana itu, akhirnya bisa juga saya menginstall Ubuntu di PC, dan akhirnya saya bisa kembali berinteraksi dengan Ubuntu. Perbedaan yang paling mencolok dari Karmic dibandingkan dengan versi-versi sebelumnya menurut saya adalah waktu booting yang lebih cepat, selain itu juga tentu saja tampilannya yang lebih menarik.

Ada beberapa aplikasi default yang mungkin sengaja diganti di Karmic, salah satunya adalah Pidgin, aplikasi messenger default di Ubuntu. Mungkin pertimbangan disingkirkannya Pidgin karena mengalami masalah koneksi dengan server Yahoo. Pidgin akhir-akhir ini menjadi sulit digunakan ketika akan melakukan koneksi ke server Yahoo. Dari hasil googling, ada beberapa orang yang berpendapat Pidgin memang sengaja diblok di server Yahoo, karena Yahoo akan lebih memproritaskan pengguna untuk memakai aplikasi Yahoo Messenger. Tapi anehnya saya masih bisa terkoneksi ke server Yahoo menggunakan aplikasi messenger selain Pidgin dan Yahoo Messenger. Saya biasa menggunakan YahElite untuk alternatif messenger, dan YahElite tidak mengalami masalah gagal koneksi ke server Yahoo seperti yang dialami Pidgin. Di Karmic, keberadaan Pidgin sebagai aplikasi messenger default di Ubuntu diganti oleh Empathy.

Masalah klasik Ubuntu yang sudah saya alami sejak versi Hardy adalah resolusi monitor yang tiba-tiba menciut menjadi 640×480 dari sebelumnya 1024×768. Masalah yang sampai sekarang masih belum bisa didapat solusi untuk mengatasinya. Padahal saya sudah menggunakan driver Nvidia yang terbaru, versi 177. Anehnya, masalah menciutnya resolusi monitor bisa selesai dengan sendirinya. Tiba-tiba resolusi kembali seperti semula menjadi 1024×768. Untunglah… :D

Sampai sekarang saya belum menemukan masalah yang aneh-aneh pada Karmic, selain menciutnya resolusi monitor tentu saja. Tidak seperti versi Jaunty yang mengalami masalah pada setting network adapter, setting network melalui network manager gnome dapat berjalan dengan lancar. Koneksi wifi-pun bisa otomatis tersambung (kalau sebelumnya sudah diset “connect automatically” di network manager).

Di Karmic, ada lebih banyak pilihan jika kita ingin mengkustom appeareance, terutama di bagian Background untuk desktop dan di bagian Fonts. Di bagian kiri bawah windows Appearance ada menu untuk langsung mencari theme, background, font secara online.

catatan :

Postingan ini dibuat pada Maret 2010, dan baru sempat saya post sekarang (Agustus 2010). Berhubung saya sudah tidak memakai Ubuntu 9.10 lagi, sepertinya postingan ini tetap akan menjadi unfinished post di blog ini :D

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.